Al Semesta Bertasbih, mengagungkan Asma Allah SWT

Semesta Bertasbih Mengagungkan Asma Allah SWT

SubhanAllah, Walhamdulillah, Walailahaillallah, Wallahu Akbar

Semesta Bertasbih Mengagungkan Asma Allah SWT

SubhanAllah, Walhamdulillah, Walailahaillallah, Wallahu Akbar

Semesta Bertasbih Mengagungkan Asma Allah SWT

SubhanAllah, Walhamdulillah, Walailahaillallah, Wallahu Akbar

Semesta Bertasbih Mengagungkan Asma Allah SWT

SubhanAllah, Walhamdulillah, Walailahaillallah, Wallahu Akbar

Semesta Bertasbih Mengagungkan Asma Allah SWT

SubhanAllah, Walhamdulillah, Walailahaillallah, Wallahu Akbar


“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh... Ahlan Wasahlan Bikhudurikum

Photo Cube Generator

Selasa, 07 Agustus 2012

Ulang Tahun : Makna & Pengertian Menurut Islam (besrta Do'a)




Segala puji bagi Allah, yang awal tanpa yang awal sebelum-Nya, yang akhir tanpa yang akhir sesudah-Nya. Mahasuci AsmaNya, Maha tampak AnugrahNya.
Ya Allah. Sampaikan shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya. Shalawat yang awalnya tidak terbatas, yang batasnya tidak berujung, dan akhirnya tidak berhingga.
Ya Allah. Anugerahkan kepadaku kelangsungan hidup, panjangkan usiaku, sehatkan badanku, akhlak-ku, agamaku, sejahterakan jiwa dan ragaku, alirkan rezekiku melalui tanganku, anugerahkan kepadaku kecerdasan akal dan kebeningan hati.
Bantulah aku, berbuat baik kepada sesama dari sisiMu. Jadikan aku, mendekatimu, menyayangimu, mencintaiku. Jadikan aku, orang yang baik dan takwa, yang punya pandangan dan pendengaran yang taat kepadaMu, yang mencintai dan setia kepada kekasihMu, Muhammad.
Berikan semua itu dengan petunjuk dan rahmatMu, berikan kepada kami apa yang terbaik di dunia dan akhirat. Aamiin.
Ulang TahunUlang Tahun. Hukum merayakan ulang tahun memang tidak didapat nash yang secara langsung melarangnya dan juga menganjurkannya. Hal itu dikembalikan kepada tradisi masyarakat setempat. Dengan catatan, tidak ada mata acara dan perilaku yang bertentangan dengan aturan Islam.

Kita tidak menemukan riwayat yang menceritakan bahwa setiap tanggal kelahiran Rasulullah SAW, beliau merayakannya atau sekedar mengingat-ingatnya. Begitu juga para shahabat, tabiin dan para ulama salafusshalih. Kita tidak pernah dengar misalnya Imam Abu Hanifah merayakan ulang tahun lalu potong kue dan tiup lilin.

Namun bila ulang tahun itu lebih banyak mudharatnya dari pada manfaatnya, apalagi menghabiskan biaya yang cukup besar, maka leibh bijaksana bila tidak dirayakan secara berlebihan.

Selain itu yang penting juga untuk diketahui bahwa dalam hukum Islam dikenal istilah “Sadd Az-Zariah”. Artinya mencegah sesuatu yang dikhawatirkan nantinya akan berakibat buruk. Karena itu ketika muncul trend qiyamullail, dikeluarkan fatwa yang meminta agar aktifitas itu tidak perlu dihidup-hidupkan.

Memang acara itu dalam rangka mencounter hura-hura malam tahun baru sekian tahun yang lalu, lalu kemudian aktifitas qiyamullail di malam tahun baru semakin menggejala di kalangan aktifis dakwah, namun ditakutkan suatu hari nanti orang akan beranggapan bahwa aktifitas seperti harus rutin dilaksanakan.

Meski awal pemikirannya cukup baik yaitu mengalihkan gairah para pemuda dari hura-hura malam tahun baru dengan terompet, campur baur muda mudi, atau pesta pora dan lainnya, dialihkan menjadi shalat malam berjamaah, tafakkur dan merenung tentang arti Islam bahkan ada doa bersama dan menangis menyesali dosa-dosa.

Tapi trend ini semakin tahun semakin luas dan para ulama mengkhawatirkan akan menimbulkan salah persepsi bagi orang awam, bahwa aktifitas ini harus rutin dikerjakan dan seolah menjadi bagian dari syariat agama ini.

Karena itu selama masih bisa ditangkal, sebelum membesar dan sulit dihilangkan, dikeluarkanlah fatwa untuk menghimbau para aktifis dakwah agar tidak perlu menyelenggarakan qiyamullail tiap malam tahun baru. Kalau mau tahajjud dan qiyamullail, silahkan dikerjakan masing-masing di rumah.

Karena itu bila dalam sebuah rumah tangga islami ingin diterapkan pola kehidupan yang Islami, menyelenggarakan ulang tahun anak bukan alternatif yang paling baik. Ini bukan berarti tradisi saling memberi hadiah tidak boleh, atau merenungi dan mensyukuri karunia yang Allah berikan tidak diizinkan. Hanya untuk melakukan aktifitas itu kan tidak harus dalam format ulang tahun.

_______________










                http://danang.wordpress.com/2006/10/26/hukum-ulang-tahun/



Jumat, 03 Agustus 2012

Panduan Cari Jodoh




Panduan Cari Jodoh

Dalam tulisan yang lalu sudah disinggung tentang ayat Allah SWT yang menjadi janji baku dalam perjodohan. Sederhana saja, yaitu jika ingin mendapatkan jodoh yang baik maka berusahalah menjadi pribadi yang baik.

Dalam kesempatan ini coba kita tinjau apakah ada usaha-usaha lain yang dapat dilakukan seseorang untuk mencari jodoh secara aktif dengan cara yang dapat dipertanggung jawabkan secara syariat Islam.

Dewasa ini angka bujang dan gadis yang belum menikah di usia kepala tiga semakin meningkat. Banyak alasan, antara lain karena semakin melonggarnya hubungan kekerabatan keluarga besar (extended family) yang mengakibatkan profesi ”mak comblang” menghilang, semakin tingginya pendidikan anak gadis yang membuat para bujang enggan melamar, semakin enggannya anak gadis dan bujang untuk segera menikah dengan alasan ”mau sekolah dulu” atau ”mau cari kerja dulu”, semakin enggannya anak muda menerima perjodohan keluarga dan lain-lain.

Pada gilirannya hal-hal ini sebenarnya membentuk semacam bom waktu diam-diam di kalangan keluarga yang memiliki anak gadis yang masih sendirian. Memang, budaya negeri kita masih memegang erat tradisi harus menikah bagi anggota keluarganya, agar tak diejek sebagai ”tidak laku” atau dianggap tidak memalukan keluarga. Budaya kita memang sedang berubah, namun masih ada yang mempedulikan hal-hal semacam ini.

Bagi mereka para ”singlers” (yang masih belum berpasangan) yang ingin melihat kemungkinan mencari jodoh, mudah-mudahan tips-tips berikut bermanfaat.

Pertama, fahami sifat takdir perjodohan, sebagaimana di tulisan lalu. Juga fahami sifat takdir secara umum yaitu : ditentukan oleh Allah baik siapa-nya, maupun kapannya. Apapun yang kita usahakan, baik mengarahkan keinginan dan usaha ke orang tertentu maupun menentukan waktu tertentu, akhirnya yang terlaksana adalah yang sudah ditentukan Allah SWT. Namun, Alhamdulillah sebagai manusia kita tak mengetahui yang ghaib kecuali yang diberitahu Allah. Dalam keadaan ketidak tahuan tersebut, terbukalah ruang doa dan usaha yang cukup luas. Dengan menyadari bahwa Pemilik segala urusan adalah Allah, maka seluruh harapan kita memang sebaiknya dikerahkan kepadaNya semata.

Kedua, sebanyak mungkin mempelajari apa saja yang menjadi tanggung jawab suami atau istri dalam sebuah rumahtangga Islami, kemudian mencoba mengukur diri seberapa jauh diri kita sudah sanggup memenuhi bagian kita. Jika anda wanita, maka apakah sudah siap menjadi istri sholihah yang diharapkan seorang suami yang sholeh? ”Siap berusaha menjadi…” bukan berarti sudah memastikan diri sudah sholeh atau sholihah. Manusia tidak akan mencapai titik sempurna, namun setiap usaha ke arah kebaikan akan disambut Allah dengan kesanggupan. Yang penting sudah termotivasi sesuai dengan penmahaman yang benar.

Ketiga, berbekal pengetahuan tentang profil rumahtangga Islami, maka kemudian buatlah semacam perencanaan atau gambaran kasar rumahtangga semacam apa yang anda inginkan bersama pasangan hidup anda kelak. Tentu disesuaikan dengan faktor-faktor budaya dan selera anda pada ruang-ruang yang dimungkinkan syariat Islam. Gambaran kasar ini Insya Allah akan berguna pada saat sang calon sudah ada. Perencanaan atau gambaran kasar ini adalah bahan diskusi dengannya. Banyak orang ketika sudah punya calon pendamping (misal pacar) kemudian mendiskusikan berbagai hal yang kurang penting, misalnya rumah seperti apa yang akan dipilih, bagaimana desain kamar tidur atau siapa nama anak nanti. Hendaknya diskusikanlah hal-hal terpenting, seperti komitmen untuk menegakkan Islam dalam rumahtangga dan bagaimana cara menyelesaikan konflik.

Keempat, maka mulailah ”perburuan jodoh” yang sebenarnya. Berburu? Ya, dengan cara yang benar. Berburulah di waktu-waktu sepertiga malam yang akhir, di atas sajadah dengan segala kerendahan hati, menghiba kepada sang Pemilik Urusan, yaitu Allah. Dalam berdoa, sebutkanlah lengkap segala krietria yang anda inginkan dan bagaimana gambaran rumahtangga yang anda harapkan. Akhirilah dengan pernyataan: ”Jika itu semua baik MenurutMu ya Allah, kabulkanlah segera dan mudahkanlah. Namun jika kurang baik MenurutMu, tunjukilah padaku yang lebih baik, dan siapkanlah diriku menerimanya, Amin.”

Dengan memasang hati seperti ini, Insya Allah siapapun siap menerima takdir dan Insya Allah menadapat yang terbaik, sebab Allah tidak pernah menyia-nyiakan hambaNya.

Dalam langkah ke empat ini, ada beberapa kit yang perlu dicatat. Dalam tahapan berburu melalui doa, hendaknya mempelajari keadaan-keadaan apa saja yang termasuk saat-saat mustajab dalam berdoa. Misalnya saat hujan baru mulai turun, saat sedang mengalami kesulitan, saat sedang sakit, saat sedang ada jenazah, antara adzan dan iqamat setiap waktu shalat wajib, saat tengah malam ketika tahajjud dlsb. Khususkanlah membaca doa untuk berburu jodoh ini pada saat-saat tersebut. Jika anda kebetulan sedang hajji, maka lebih banyak lagi alternatif tempat dan saat mustajab sepanjang perjalanan mulia tersebut.

Ada kisah, seorang yang akan berangkat haji diminta oleh tetangganya untuk mendoakan agar anak gadis si tetangga itu segera mendapat jodoh. Sang calon haji ini kemudian berangkat dan setiap ada kesempatan di manapun membaca doa-doa titipan handai taulan, iapun serius melakukannya setelah membaca doa-doanya sendiri. Sepanjang perjalanan hajinya yang 30 hari iapun berkali-kali membaca doa tetangganya tersebut, termasuk di depan Ka’bah dan di hari Arafah. Iapun pulang setelah meninggalkan tanah air selama sebulan. Betapa terkejutnya ia ketika sampai di rumah ia melihat bekas-bekas ada pesta kawinan di sekitar rumahnya, ternyata tetangganya kemarin baru saja menikahkan anak gadis mereka tersebut. Ia tidak diundang sebab, baru pulang keesokan harinya. Rupanya, proses lamaran dan aqad sedemikian capat dan lancar hingga dalam jarak kurang dari sebulan sudah selesai, padahal ketika minta didoakan sebelum tetangganya berangkat, sang anak gadis dan orangtuanya sama sekali belum punya bayangan siapa calonnya. Subhanallah, begitulah kekuatan doa. Wallahu a’lam.
 ____________________







Sumber :  eramuslim.com




Rabu, 01 Agustus 2012

☆♥•Belajar Menjadi Diri Sendiri•♥☆







☆♥•Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh•♥☆


Sahabat saudaraku fillah dan tentunya yang selalu dirahmati Allah SWT.. perlu kita ketahui dan renungkan bersama, barangkali ada di antara kita pernah membandingkan dengan orang lain tentang kelebihan dan kekurangan yang ada dalam diri..

Sehingga mungkin merasa minder dengan kekurangan yang ada..

Padahal jika kita renungi setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan termasuk kita..

Keinginan untuk menjadi orang lain seringkali membingungkan kita sendiri karena terlalu banyak kepura-puraan yang kita lakukan. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya kita mau dan inginkan, karena kita tidak berani menjadi diri sendiri dan tidak jujur terhadap diri sendiri..

Pada dasarnya setiap manusia terlahir secara unik, dalam arti masing-masing memiliki bakat dan keahlian yang berbeda. Agar berani menjadi diri sendiri datalah kelebihan kita lantas kembangkan niscaya akan percaya bahwa kitapun memiliki bakat dan keahlian yang tidak dimiliki orang lain..

Saudaraku.. menjadi diri sendiri bukan berarti kita tak perlu figur yang lebih baik.. bukan seperti itu saudaraku.. kita sangat butuh figur yang baik untuk suri tauladan kita. Yang tidak baik adalah kita sering merasa minder atas apapun kekurangan yang ada dalam diri. Sejatinya kelebihan dan kekurangan kita itu sudah diatur oleh Allah, jadi apa yang kita miliki saat ini adalah anugerah dari Allah yang wajib kita syukuri karena itulah yang terbaik yang Dia berikan kepada kita. Akan lebih indah jika kita meningkatkan apa yang menjadi kelebihan kita untuk menutupi kekurangan yang ada daripada terus menerus merasa minder dengan kekurangan kita...

Saudaraku.. kata syukur menjadi kata kunci untuk menjadi diri sendiri. Kita memang banyak kekurangan, tapi jangan sampai kekurangan tersebut menjadikan kita minder dalam menatap kehidupan. Syukuri segala apa yang ada di tangan serta berusaha memaksimalkan segala kelebihan guna menghasilkkan sesuatu yang terbaik.

____________________









Selasa, 31 Juli 2012

DO'A SEBELUM & SESUDAH MEMBACA AL-QUR'AN





DO'A SEBELUM MEMBACA AL-QUR'AN 

Perbanyaklah membaca Al-Qur'an dan sebelumnya bacalah Fatihah kemudian bacalah do'a ini, lalu akhirilah dengan membaca Fatihah kembali.

اَللَّهُمَّ بِا لْحَقِّ اَنْزَلْتَهُ وَبِالْحَقِّ نَزَلَ .اَللَّهُمَّ عَظِّمْ رَغْبَتِى فِيهِ .وَاجْعَلْهُ نُورًا لِبَصَرِى. وَ شِفَاءً لِصَدْرِى .اَللَّهُمَّ زَيِّنْ بِهِ لِسَانِى. وَجَمِّلْ بِهِ وَجْهِى. وَقَوِّ بِهِ جَسَدِى .وَارْزُقْنِى تِلاَوَتَهُ عَلَى طَاعَتِكَ. آَنَاءَ اللَّيْلِ وَاَطْرَافَ النَّهَارِ. وَاحْشُرْنِى مَعَ انَّبِىِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَ آلِهِ الْاَخْيَارِ.

ALLAHUMMA BİL HAQQİ ANZALTAHU WABİL HAQQİ NAZAL. ALLAHUMMA 'AZZİM ROGBATİ FİİHİ WAJ'ALHU NUURON Lİ BASORİ, WA SYİFAA-AN LİSODRİİ. ALLAHUMMA ZAYYİN BİHİİ LİSAANİİ, WA JAMMİL BİHİİ WAJHİİ, WA QOWWİ BİHİİ JASADİİ, WARZUQNİİ TİLAA WA TAHUU 'ALAA TOO'ATİK, AANAA ALLAYLİ WA ATROO FANNAHAAR. WAHSYURNİİ MA'AN NABİYYİ MUHAMMADİN SHOLLALLAHU TA'AALA 'ALAYHİ WASALLAMA WA AALİHİİL AKHYAAR. 

Artinya :
"Yaa Allah dengan Hak-Mu, Engkau menurunkan Al-quran, dengan Kebenaran (Hak-Mu) pula Al-quran turun. "Yaa Allah, dengan Al-quran, Besarkanlah semangatku, jadikanlah Al-quran sebagai cahaya untuk penglihatanku dan obat untuk hatiku. "Yaa Allah, Hiasilah lisanku dengan Al-quran, dengan Al-quran indahkanlah wajahku, dengan Al-quran kuatkanlah jasadku, karuniakanlah bacaan ini atas taat kepadamu sepanjang malam dan siang. Dan kumpulkanlah aku bersama Nabi Muhammad SAW dan para keluarganya yang terpilih".

Rasulullah Shollallahu 'Alayhi Wasallam bersabda : ''Barang siapa membaca do'a ini sebelum memulai membaca Al-Qur’an maka dİa akan mendapatkan pahala sebanyak 50.000 untuk setiap hurufnya''
(Hadits Riwayat SHOHİH MUSLIM).

JADI KALAU KITA SUDAH MENGHATAMKAN AL-QUR’AN MAKA MENDAPATKAN 16.183.500.000 (16 MİLYAR 183 JUTA 500 RİBU PAHALA)
Mari perbanyaklah do'a ini dengan menyebarkannya kepada Kerabat anda...
saya harap do'a ini diprint dan di baca, lebih bagus lagi dihafal.
"Ilmu yang bermanfa'at adalah teman kita di qubur & penolong kita di yaumil qiyaamah".


DO’A SETELAH MEMBACA AL-QUR’AN :

اَللَّهُمَّ ارْ حَمْنِى بِالْقُرْاٰنِ وَجْعَلْهُ لِى اِمَامًا وَنُورًا وَهُدًى وَرَحْمَةً اَللَّهُمَّ ذَكِّرْنِى مِنْهُ مَا نَسِيْتُ وَعَلِّمْنِى مِنْهُ مَاجَهِلْتُ وَارْزُقْنِى تِلاَوَتَهُ اٰنَۤاءَ للَّيْلِ وَ اَطْرَافَ النَّهَارِ وَجْعَلْهُ لِى حُجَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
 
ALLAHUMMARHAMNİİ BİL QUR’ÂN, WAJ’ALHU Lİİ İMÂMAW WA NUUROO, WA HUDAA WA ROHMAH. ALLAHUMMA DZAKKİRNİİ MİNHU MAA NASİİTU, WA ‘ALLİMNİİ MİNHU MAA JAHİLTU, WARZUQNİİ TİLAAWATAHU AANAA-ALLAYLİ WA ATHROO FANNAHAAR, WAJ’ALHU Lİİ HUJJATAN, YAA ROBBAL ‘AALAMİİN.

 Yaa Allah curahkanlah rahmat kepadaku dengan Al-Qur’an, dan jadikan Al-Qur’an sebagai pemimpin, cahaya, petunjuk dan rahmat bagiku. Yaa Allah ingatkanlah aku terhadap apa yang telah aku lupakan dari Al-Qur’an. Ajarilah aku apa-apa yang belum aku ketahui dari Al-Qur’an. Anugerahilah aku kemampuan untuk senantiasa membacanya sepanjang malam dan siang. Jadikanlah Al-Qur’an hujjah  bagiku ( yang dapat menyelamatkanku) Wahai Tuhan Seluruh ‘Alam.

____________________








SUMBER :  (Pecinta Islam)





Minggu, 15 Juli 2012

Jadwal Puasa Ramadhan 2012/1433 H untuk Wilayah Sumenep dan Sekitarnya




 Jadwal Puasa Ramadhan 2012/1433 H untuk Wilayah Sumenep dan Sekitarnya

Tahun 1433 H / 2012 M
Kota Sumenep, Jatim (Lat:7°1'LS Lon:113°51'BT GMT+7)


Marhaban
Yaa Ramadhan
1433 H
Semoga Amal & Ibadah kita di Bulan Ramadhan ini., Senantiasa mendapatkan Rahmat, Barokah & Maghfirah Dari Allah SWT.....!!!!
Aamiin.
 
  ▒▒▒▒ Azimuth Arah Kiblat kota Sumenep, Jatim = 293,75 °
▒▒▒▒  
No.ImsakSubuhTerbitDhuhaZuhurAsharMagribIsya'
0004:0804:1805:3605:5911:3314:5517:2618:40
0104:0804:1805:3605:5911:3314:5517:2618:40
0204:0804:1805:3605:5911:3314:5517:2618:40
0304:0804:1805:3605:5911:3314:5517:2718:40
0404:0804:1805:3605:5911:3314:5517:2718:40
0504:0804:1805:3605:5911:3314:5517:2718:40
0604:0804:1805:3505:5811:3314:5517:2718:40
0704:0804:1805:3505:5811:3314:5517:2718:40
0804:0804:1805:3505:5811:3314:5517:2718:40
0904:0804:1805:3505:5811:3314:5517:2718:40
1004:0804:1805:3505:5811:3314:5517:2718:40
1104:0804:1805:3505:5811:3314:5517:2718:40
1204:0804:1805:3405:5711:3314:5517:2718:40
1304:0804:1805:3405:5711:3314:5517:2718:40
1404:0704:1705:3405:5711:3314:5517:2818:40
1504:0704:1705:3405:5711:3314:5417:2818:40
1604:0704:1705:3405:5711:3314:5417:2818:40
1704:0704:1705:3305:5611:3214:5417:2818:39
1804:0704:1705:3305:5611:3214:5417:2818:39
1904:0704:1705:3305:5611:3214:5417:2818:39
2004:0704:1705:3205:5511:3214:5417:2818:39
2104:0604:1605:3205:5511:3214:5317:2818:39
2204:0604:1605:3205:5511:3214:5317:2818:39
2304:0604:1605:3205:5511:3214:5317:2818:39
2404:0604:1605:3105:5411:3114:5317:2818:39
2504:0604:1605:3105:5411:3114:5217:2818:39
2604:0504:1505:3005:5311:3114:5217:2818:38
2704:0504:1505:3005:5311:3114:5217:2718:38
2804:0504:1505:3005:5311:3114:5117:2718:38
2904:0404:1405:2905:5211:3014:5117:2718:38
  ▒▒▒▒ Azimuth Arah Kiblat kota Sumenep, Jatim = 293,75 °
▒▒▒▒


Jadwal Puasa Ramadhan 2012/1433 H untuk Wilayah Sumenep dan Sekitarnya
Keterangan Jadwal diatas:
1. Awal Ramadhan dan Syawwal 1433 H mengikuti Keputusan Pemerintah RI.
2. Jadwal berlaku untuk wilayah kota ybs. dengan radius maksimal +/- 25 km.
3. Jadwal sudah ditambah waktu ihtiyati (pengaman) sebesar +/- 2 menit.
4. Jadwal berdasarkan Kriteria Jadwal Shalat Kementerian Agama RI.

KRITERIA JADWAL SHALAT KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA
1). Imsak 10 menit sebelum waktu Subuh.
2). Subuh saat Matahari berada pada sudut -20° di bawah horizon Timur ditambah ihtiyati 2 menit.
3). Syuruq / Terbit saat Matahari terbit dikurangi ihtiyati 2 menit.
4). Dhuha saat Matahari berada pada sudut 4,5° di atas horizon setelah terbit ditambah ihtiyati 2 menit.
5). Zuhur saat Matahari melintas Meridian (zawal/istiwa/noon) ditambah ihtiyati 2 menit.
6). Ashar saat panjang bayangan Matahari = panjang benda + panjang bayangan benda waktu Zuhur
ditambah ihtiyati 2 menit.
7). Maghrib saat Matahari terbenam ditambah ihtiyati 2 menit.
8). Isya' saat Matahari berada pada sudut -18° di bawah horizon Barat ditambah ihtiyati 2 menit.
Persembahan by : rukyatulhilal.org





Sabtu, 14 Juli 2012

Hawa Mengenali Adam: Tulang Rusuk Mengenali Siapa Pemiliknya





“Sejak diturunkan ke bumi, Hawa terus memikirkan Nabi Adam. Bagaimana keadaannya sekarang? Apa ia sanggup hidup sendirian di bumi ini? Hawa bertekad untuk bertemu Nabi Adam. Hawa terus berjalan menyusuri bumi. Sesekali ia beristirahat sambil makan buah-buahan. Ia terus berdoa kepada Allah agar segera dipertemukan dengan Nabi Adam. Hawa tiba di sebuah padang pasir dan bukit yang sangat gersang. Ia sudah sangat kelelahan dan hampir putus asa. Kemudian ia berdoa kepada Allah dengan sangat khusyuk. Rupanya Allah mengabulkan doanya. Hawa melihat sosok yang sangat ia kenali. Ia adalah Nabi Adam. Hawa memanggil Nabi Adam dan Nabi pun memanggil Hawa dengan penuh kerinduan. Inilah saat yang paling membahagiakan bagi mereka.”  Itulah sepenggal kisah tentang pertemuan Adam dan Hawa di bumi dalam buku “Ensiklopedia Kisah Al-Qur’an” terbitan Gema Insani Press. Mungkin kisah ini pun menggambarkan manusia pada umumnya. Tabiat perempuan yang peduli tergambar jelas dalam penggalan cerita di atas. Hawa terus memikirkan Nabi Adam dan ingin segera bertemu dengan Nabi Adam. Apa alasannya? Ternyata, bukan karena sekadar melepas rindu dirinya pada Adam, tapi lebih memikirkan bagaimana keadaan Nabi Adam sekarang? Apakah Adam sanggup hidup sendiri di bumi? Hawa tak memikirkan dirinya sendiri. Itulah sifat dasar perempuan, ketika memutuskan sesuatu ia selalu mempertimbangkan orang lain bukan hanya kepentingan dirinya sendiri.

Ya, karena Allah menciptakan Hawa untuk menemani Adam ketika di syurga. Allah tahu bahwa Adam tak bisa hidup sendiri. Walaupun dengan kenikmatan-kenikmatan syurga yang telah ia dapatkan, tetap saja seorang Adam membutuhkan teman. Maka, Allah ciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam untuk menemani Adam di syurga.


Ketika diturunkan ke bumi dan mereka berpisah, maka naluri masing-masing pasti akan saling mencari. Dan dalam pencarian di sini digambarkan secara jelas kekhawatiran Hawa akan kondisi Adam di bumi: sanggupkah Adam hidup sendirian?


Hawa pun terus berusaha menelusuri bumi demi bertemu Adam. Uniknya, di buku ini tak diceritakan bagaimana usaha Adam menemukan Hawa, tapi lebih kepada bagaimana usaha Hawa menemukan Adam. Pastinya tak bisa dipungkiri juga bahwa tentunya Adam pun berusaha keras untuk bertemu dengan Hawa karena di syurga yang penuh kenikmatan saja Adam membutuhkan seorang teman, bagaimana dengan ketika di bumi yang berbeda jauh dari segi kenikmatan di syurga? Tentu Adam sangat membutuhkan seorang teman terlebih ketika berada di bumi. Dan tentunya ada rasa kehilangan ketika Hawa yang biasanya menemaninya di syurga tak ada di sisinya.


Memang agak sedikit berbeda, penggambaran pertemuan itu diangkat dari sisi Hawa yang berusaha bertemu Adam. Tak diceritakan pencarian seorang Adam namun lebih ditekankan pada pencarian seorang Hawa yang menunjukkan rasa pedulinya pada Adam. Hawa terus berjalan, beristirahat, berdoa di tengah lelah. Hingga akhirnya di tengah lelah yang begitu sangat dan dalam kondisi hampir putus asa, di gurun pasir yang panas dan gersang, doa khusyuknya dikabulkan Allah dan dipertemukanlah ia dengan sosok yang ia kenal. Ya, ternyata Hawa-lah yang mengenali Adam lebih dulu ketika bertemu. Sungguh, tulang rusuk mengenali siapa pemiliknya.


Mungkin akan terlontar pertanyaan begini: “Nabi Adam dan Hawa itu kan cuma dua-duanya manusia di bumi. Jadi ketika bertemu mudah untuk saling mengenali. Lantas bagaimana dengan kita yang jumlah penduduk bumi sudah sekian milyar banyaknya? Bagaimana kita bisa tahu bahwa dialah tulang rusuk kita (bagi laki-laki) atau dialah pemilik tulang rusuk ini (bagi perempuan)?


Di sinilah letak proses ta’aruf itu berperan. Tentunya ta’aruf yang syar’i, bukan sekadar kata ta’aruf namun jauh nilai-nilainya dari sebuah proses ta’aruf. Ta’aruf lah ajang saling mengenal yang [katanya] akan terasakan di sana siapa tulang rusuk atau pemilik tulang rusuk kita.


Mari kutunjukkan kisah dua orang akhwat. Ada seorang akhwat yang merasa klop dengan seorang ikhwan, merasa saling cocok, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk ta’aruf. Dalam proses ta’aruf, ternyata istikharah sang akhwat tak mantap dan ada keraguan di sana. Ta’aruf pun kandas di tengah jalan. Awalnya sebelum ta’aruf, sang akhwat menganggap bahwa ikhwan itulah pemilik tulang rusuknya. Tapi ternyata, setelah ta’aruf, bukan ikhwan itu pemilik tulang rusuknya.


Qadarullah, sang akhwat dipertemukan dengan seorang ikhwan yang belum pernah dikenal dan dipertemukan dalam sebuah proses ta’aruf. Sang akhwat pun mantap, tak ada keraguan sedikit pun dalam istikharahnya. Akhirnya, mereka menikah.


Satu lagi, ada seorang akhwat yang memblacklist seorang ikhwan untuk menjadi calon suaminya karena merasa tidak cocok secara karakter. Namun ternyata sang ikhwan berkeinginan untuk ta’aruf dengan sang akhwat. Awalnya sang akhwat menolak untuk berta’aruf dengan sang ikhwan. Atas nasihat sang guru ngaji dan istikharah beberapa kali, sang akhwat pun mencoba untuk berta’aruf dengan ikhwan yang dimaksud. Hingga akhirnya, mereka menikah.


Terlihat jelas bukan? Bahwa memang hanya sebuah proses ta’aruf yang syar’i-lah yang bisa mendatangkan petunjuk Allah. Dan sebaik-baik petunjuk itu adalah petunjukNYA.


Ada sebuah penggalan dalam artikel yang pernah dibaca:


“Kalau kita tidak mau mencoba ta’aruf, bagaimana mungkin kita tahu ia jodoh kita atau bukan. Kalau kita ta’aruf, kita akan tahu. Jika berhasil, berarti jodoh. Kalau belum berhasil, berarti belum jodoh. Iya, kan?!”


Jadi, memang benar, kita takkan pernah tahu siapa jodoh kita di dunia, kita takkan pernah tahu siapa pemilik tulang rusuk kita (bagi perempuan), atau siapa tulang rusuk kita yang belum ditemukan (bagi laki-laki), sebelum proses ta’aruf. Dari proses ta’aruflah, Allah memberikan petunjukNYA, menunjukkan siapa yang terbaik untuk kita.


So, buat para ikhwan yang sedang merasa seseorang itu sebagai tulang rusukmu, cobalah ta’aruf dulu. Baru kamu bisa bilang kalau dia tulang rusukmu atau bukan setelah proses ta’aruf. Dan tentunya disertai musyawarah dan istikharah. Dua hal inilah yang tak boleh ditinggalkan ketika proses ta’aruf.


Dan buat para akhwat yang berkali-kali gagal dalam proses ta’aruf, yakinlah memang mungkin belum saatnya dipertemukan dengan pemilik tulang rusukmu. Bersabarlah dan teguhkanlah kesabaranmu. Insya Allah semua kan indah pada waktunya.


Pada akhirnya, sebaik-baik jodoh adalah jodoh di akhirat, jodoh yang kekal. Namun sejatinya kita takkan pernah tahu siapa jodoh kita di akhirat. Karena belum tentu jodoh di dunia juga otomatis jodoh di akhirat. Maka yang bisa diikhtiarkan saat ini adalah mencari jodoh di dunia untuk membawanya menjadi jodoh di akhirat pula.


“Ya Allah Ya Tuhan kami, karuniakanlah kepada kami nikmat di dunia dan juga nikmat di akhirat. Dan jauhkanlah kami dari siksa api neraka…”


Aamiin…


dia
sebuah nama yang belum tereja

dia
sebuah rupa yang belum tersketsa

dia
sebuah sosok yang entah dimana

dia
calon nahkoda
sebuah biduk rumah tangga

dia
kuyakin ada
karna hati yang merasa
Rabbana
Jaga ia di manapun berada
Mudahkan langkahnya
Tunjukkan jalannya
Luruskan niatnya
Bulatkan tekadnya
Mantapkan hatinya
Berkahilah rizkinya
Hingga akhirnya
KAU pertemukan aku dengannya

Dalam suatu ikatan suci nan mulia
Mitsaqan ghalizha.

____________________







Selasa, 10 Juli 2012

SHALAT BERJAMA'AH DAN IMAMAH (Bagian 1)




عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ عُمَرَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص. قَالَ (صَلَاةُ اْلجَمَاعَةِ اَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ اْلفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةٍ). مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
    421.    Dari 'Abdullah bin Umar, bahwasanya Rasulullah saw. telah bersabda : Shalat berjama'ah lebih utama dua puluh tujuh derajat pada shalat sendiri-sendiri.
    Muttafaq 'alaih.

وَلَهُمَا عَنْ اَبِيْ هُرَيرَةَ : بِخَمْسٍ وَعِشْرِيْنَ جُزْءًا
    422.    Dan bagi keduanya dari Abi Hurairah : dua puluh lima juzu'.

وَكَذَا لِلْبُخَارِيِّ عَنْ اَبِيْ سَعِيْدٍ، وَقَالَ : دَرَجَةً
    423.    Dan juga bagi Bukhari dari Abi sa'id, dan ia (Nabi saw) barkata : . . . . . . . . derajat.

KETERANGAN :
        I.    Menurut Hadits riwayat Ibnu 'Umar,bahwa shalat berjama'ah itu lebih tinggi dua puluh tujuh derajat daripada shalat sendiri.
        II.    Menurut riwayat Abi Hurairah, dua puluh juzu'.
        III.    Menurut riwayat Abi Sa'id, dua puluh lima derajat.
        IV.    Di Hadits-hadits itu ada perselisihan tentang 25 dan 27. Adapun derajat dan juzu' itu, maksudnya sama, yakni shalat berjama'ah itu lebih utama daripada shalat sendiri dua puluh tujuh kali atau atau dua puluh lima kali.

عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص. قَالَ (وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ اَنْ اَمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْتَطَبُ، ثُمَّ اَمُرَ بِالصَّلَاةِ فَيَؤَذَّنَ لَهَا، ثُمَّ اَمُرَ رَجُلًا فَيُؤَمَّ النَّاسَ، ثُمَّ اُخَالِفَ اِلَى رِجَلٍ لَيَشْهَدُوْنَ الصَلَاةَ فَاُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوْتَهُمْ. وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْيَعْلَمُ اَحَدُهُمْ اَنَّهُ يَجِدُ عَرْقًا سَمِيْنًا اَوْمِرْمَاتَيْنِ حَسَنَتَيْنِ لَشَهِدَ اْلعِشَاءِ). مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيُّ
    424.    Dari Abi Hurairah, bahwasanya Rasulullah saw. telah bersabda : Demi (Tuhan) yang diriku di tangan-Nya, sesungguhnya aku hendak rasanya menyuruh (orang-orang membawa) kayu, lalu terkumpul, lalu aku perintah supaya (orang-orang) shalat, lalu diadakan adzan buatnya, kemudian aku perintah seorang mengimami orang ramai, kemudian aku pergi kepada orang-orang yang tidak hadir buat shalat lalu aku bakar rumah-rumah mereka buat kerugian mereka (Ada orang artikan : Aku bakar rumah-rumah mereka sedang mereka ada di dalamnya, atau aku bakar rumah-rumah bersama orang-orangnya) ; dan demi (Tuhan) ; yang diriku di tangan-Nya, sekiranya seorang dari mereka mengeahui bahwasanya ia akan mendapat tulang yang berdaging gemuk atau daging dua rusuk yang baik, niscaya ia hadir di shalat 'Isya'.
    Muttafaq 'alaih, tetapi lafazh itu bagi Bukhari.

وَعَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلَ اللهِ ص.(اَثْقَلُ الصَّلَاةِ عَلَى اْلمُنَافِقِيْنَ : صَلَاةُ اْلعِشَاءِ، وَصَلَاةُ اْلفَجْرِ، وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَافِيْهِمَالَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا). مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
    425.   Dan daripadanya. Ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw. Seberat-berat shalat atas munafiqin ialah shalat 'Isya' dan shalat fajar; dan jika mereka tahu (ganjaran) yang ada pada keduanya, niscaya mereka datang kepada keduanya walaupun dengan merangkak.
    Muttafaq 'alaih.

KETERANGAN :
        I.    Dengan berdasarkan Hadits ke 424 dan lainnya yang semakna dengannya, sebahagian dari 'ulama membikin fatwa bahwa berjama'ah itu wajib.
        II.    Tetapi menurut Hadits ke 421, 422, 423 dan menurut Hadits Bukhari yang tidak tersebut di sini, yaitu : Orang yang paling besar ganjarannya di dalam urusan shalat ialah orang yang paling jauh perjalanannya ke shalat itu, kemudian yang kurang dari itu; dan orang yang menunggu shalat berjama'ah hinngga bershalat bersama imam. lebih besar ganjarannya daripada orang yang shalat (sendiri) lalu tidur, maka berjama'ah itu satu sunnat yang sangat kuat, bukan satu syarat, wajib atau fardhu.
        III.    Hadits ke 424 itu tidak jelas menunjukkan wajib berjama'ah, hanya menunjukkan wajib hadir buat shalat. Bisa jadi mereka itu segolongan dari munafiqin yang tidak hadir shalat bersama Rasulullah saw.

وَعَنْهُ قَالَ : اَتَى النَّبِيَّ ص. رَجُلٌ اَعْمَى فَقَالَ : يَارَسُوْلَ اللهِ، اَنَّهُ لَيْسَ لِيْ قَاعِدٌ يَقُوْدُنِيْ اِلَى اْلمَسْجِدِ، فَرَخَّصَ َلهُ، فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ. فَقَالَ(هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ؟). قَالَ: نَعَمْ. قَالَ (فَاَجِبْ). رَوَاهُ مُسْلِمٌ
    426.    Dan daripadanya. Ia berkata : Telah datang kepada Nabi saw. seorang buta (yaitu 'Umar bin Ummi Maktum) lalu ia berkata : Ya Rasulullah ! sesungguhnya saya tidak mempunyai penuntun yang bisa memuntun saya ke masjid, maka ia (Rasulullah saw) beri kelonggaran baginya, tetapi setelah ia berpaling (hendak) pergi, ia (Rasulullah saw) panggil dia lalu bertanya : Adakah engkau dengar adzan untuk shalat? ia menjawab : Ada. Sabdanya : Kalau begitu, hendaklah engkau datang.
Diriwayatkan dia oleh Muslim.

KETERANGAN :
        I.    Diketerangkan yang baru lewat, saya telah terangkan bahwa berjama'ah itu wajib dan tidak fardhu dan bukan syarat bagi shalat fardhu.
        II.    Hadits ke 426 tidak tegas menunjukkan kepada wajib berjama'ah tetapi menurut supaya orang buta itu datang bershalat di masjid Rasulullah saw., jika ia dengar adzan. Sekiranya berjama'ah itu wajib, tentulah Rasulullah saw. suruh dia shalat di kampungnya dengan berjama'ah.
        III.    Dari itu, ada sebahagian 'ulama, faham, bahwa tuntutan supaya orang buta itu datang ke masjid Nabi saw. adalah tuntunan sunnah yang keras, buat meramaikan masjid, karena jika orang Islam tidak meramaikannya, maka mereka yang belum kuat imannya akan lemah.
        IV.    Tentang tidak wajib shalat di masjid tetapi lebih utama itu, ada beberapa Hadits :
                a.    Riwayat Ahmad dan Mihyan bin Abra' yang shalat di rumah, lalu ia datang ke masjid dan tidak turut berjama'ah maka sabda Rasulullah kepadanya : Apabila engkau datang di tempat yang orang bershalat berjama'ah, turutlah kerjakan, dan jadikanlah dia shalat sunnat.
                b.    Riwayat Ahmad dan Nasa'i dari Sulaiman, bahwa Ibnu 'Umar pernah shalat di rumahnya, padahal orang ramai shalat di masjid.
                c.    Riwayat Ahmad, Tirmidzi dan Nasa'i dari Yazid bin al-Aswad. Sabda Rasulullah saw. : Barangsiapa sudah shalat di rumah, kemudian bertemu shalat berjama'ah, hendaklah ia shalat lagi, karena shalat yang kedua ini jadi sunnat.
                d.    Hadits ke 434 dan 446 juga menunjukkan boleh seseorang shalat sendiri, yakni tidak wajib berjama'ah.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ ص. قَالَ (مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ وَلَمْ يَأْتِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ اِلَّا مِنْ عُذْرٍ) رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَالدَّرَقُطْنِيِّ وَابْنُ حِبَّانَ وَاْلحَكِمُ وَاِسْنَادُهُ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ، وَلَكِنْ رَجَّحَ بَغْضُهُمْ وَقْفَهُ
    427.    Dari Ibnu 'Abbas, dari Nabi saw. ia bersabda : Barangsiapa mendengar adzan tetapi tidak datang, maka tidak ada shalat baginya, kecuali lantaran 'udzur.
    Diriwayatkan dia oleh Ibnu Majah dan Daraquthni dan Ibnu Hibban dan Hakim, dan Isnadnya itu menurut syarath Muslim, tetapi sebahagian dari mereka (Ahlul-Hadits) rajihkan mauqufnya.

KETERANGAN :
        I.    Oleh sebab banyak alasan yang menunjukkan tidak wajib berjama'ah, maka tuntutan yang ada di Hadits ke 427 itu bukan tuntutan wajib.
        II.    Tidak ada shalat baginya itu berarti : Tidak ada baginya shalat yang lebih afdhal.

عَنْ يَذِيْدِ بْنِ اْلاَسْوَدِ. اَنَّهُ صَلَّى مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ص. صَلَاةَ الصُّبْحِ، فَلَمَّا صَلَّى رَسُوْلُ اللهِ ص، اِذَا هُوَ بِرَجُلَيْنِ لَمْ يُصَلِّيَا، فَدَعَا بِهِمَا فَجِيْءَ بِهِمَا تَرْعُدُ فَرَا ئِصُهُمَا، فَقَالَ لَهُمَا (مَامَنَعَكُمَا اَنْ تُصَلِّيَا مَعَنَا ؟) قالَا: قَدْ صَلَّيْنَا فِيْ رِحَالِنَا. قَالَ (فَلَا تَفْعَلَا، اِذَا صَلَّيْتُمَا فِيْ رِحَالِكُمَا ثُمَّ اَدْرَكْتُمَا اْلاِمَامَ يُصَلِّيْ فَصَلِّيَا مَعَهُ، فَاِنَّهَا لَكُمَانَا فِلَةٌ). رَوَاهُ اَحْمَدُ، وَاللَّفْظُ لَهُ، وَالثَّلَاثَةُ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالتِّرْمِذِيُّ
    428.    Dari yazid bin al-Aswad, bahwasanya ia pernah shalat Shubuh bersama Rasulullah saw. shalat, (ketahuan) ada dua orang yang tidak shalat, maka ia (suruh) panggil mereka, lalu dibawa mereka dalam keadaan gemetar daging rusuk mereka. Sabdanya kepada mereka : Apa yang menghalangi kamu berdua tidak turut shalat bersama kami, jawab mereka : kami telah shalat di tempat kami. Sabdanya : Jangan kamu berbuat (demikian). Apabila kamu telah shalat di tempat kamu, kemudian kamu bertemu imam yang belum shalat, maka hendaklah kamu shalat besertanya, karena yang demikian itu jadi (shalat) sunnat buat kamu.
    Diriwayatkan dia oleh Ahmad dan lafazh itu baginya, dan oleh "Tiga" dan disahkan dia oleh Ibnu Hibban dan Tirmidzi.
____________________






Sumber :
Tarjamah BULUGHUL MARAAM (A.HASSAN)




Selasa, 03 Juli 2012

SHALAT SUNNAT (Bagian 4)




وَلِاَبِيْ دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيِّ نَحُوْهُ عَنْ عَائِشَةَ وَفِيْهِ : كُلُّ سُوْرَةٍ فِيْ رَكْعَةٍ، وَفِيْ اْلاَخِيْرَةِ (قُلْ هُوَاللهُ اَحَدٌ) وَاْلمُعَوَّذَتَيْنِ
    409.    Dan bagi Abi Dawud dan Tirmidzi seperti itu (juga) dari 'Aisyah, dan di situ (tersebut) : Tiap-tiap surah pada satu raka'at dan di (raka'at) yang akhir Qul huwallah dan dua Mu'auwadzah (Qul a'udzu birabbil falaq dan Qul a'udzu birabbbin-nash).

عَنْ اَبِيْ سَعِيْدٍ اْلخُدْرِيِ اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ قَالَ : (اَوْتِرُوْا قَبْلَ اَنْ تُصْبِحُوْا). رَوَاهُ مُسْلِمٌ
    410.    Dari Abi Sa'id al-Khudri bahwasanya Nabi saw. Telah bersabda : Berwitirlah sebelum kamu masuk pada waktu Shubuh.
    Diriwayatkan dia oleh Muslim.

وَلِاَبِيْ حِبَّانَ :مَنْ اَدْرَكَ الصُّبْحَ وَلَمْ يُوْتِرُ فَلَا وِتْرَالَهُ
    411.    Dan bagi Ibnu Hibban : Barangsiapa dapati Shubuh padahal ia belum witir, maka tidak ada witir baginya (Lantaran sudah habis waktunya).

وَعَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلَ اللهِ ص. (مَنْ نَامَ عَنِ اْلوِتْرِ اَوْ نَسِيَهُ فَلْيُصَلِّيْ اِذَا اَصْبَحَ اَوْ ذَكَرَ). رَوَاهُ اْلخَمْسَةُ اِلَّا النَّسَائِيِّ
    412.    Dan daripadanya. Ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw. : Barangsiapa tertidur dari shalat witir atau ia lupa kepadanya, maka hendaklah ia shalat apabila ia bangun pagi atau ingat.
    Diriwayatkan dia oleh "Lima" kecuali Nasa'i.

عَنْ جَابِرٍ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص. (مَنْ خَافَ اَنْ لَايَقُوْمَ مِنْ اَخِر اللَّيْلِ فَلْيُوْتِرَ اَوَّلَهُ، وَمَنْ طَمِعَ اَنْ يَقُوْمَ اَخِرَهُ فَلْيُوْتِرَ اَخِرَ اللَّيْلِ، فَاِنَّ صَلَاةَ اَخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُوْدَةٌ، وَذَلِكَ اَفْضَلُ). رَوَاهُ مُسْلِمٌ
    413.    Dari Jabir. Ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw. : Barangsiaapa khawatir bahwa ia tidak akan bangun pada akhir malam, maka boleh ia witir pada awalnya. dan barangsiapa percaya bahwa bisa ia bangun di akhirnya, maka hendaklah ia witir di akhirnya, karena akhir malam itu di saksikan (yakni dihadiri oleh malaikat) yang demikian itu lebih utama.
    Diriwayatkan dia oleh Muslim.

KETERANGAN :
        I.    Hadits ke 411, maksunya, barangsiapa tidak berwitir hingga Shubuh, tidak ada shalat witir baginya.
        II.    Hadits ke 412 menerangkan barangsiapa tertidur atau lupa, boleh ia shalat witir apabila masuk waktu Shubuh atau bila ia ingat.


عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ ص.قَالَ (اِذَا طَلَعَ اْلفَجْرُ فَقَدْ ذَهَبَ وَكْتُ كُلِّ صَلَاةِ اللَّيْلِ وَاْلوِتْرِ. فَاَوْتِرُوْ قَبْلَ طُلُوْعِ اْلفَجْرِ). رَوَاهُ التِرْمِذِيُّ
    414.    Dari Ibnu 'Umar, dari Nabi saw. ia bersabda : Apabila terbit fajar maka habislah semua waktu shalat malam dan witir, oleh itu berwitirlah kamu sebelum terbit fajar.
    Diriwayatkan dia oleh Tirmidzi.

عَنَ عَائِشَةَ قَالَتْ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص. يُصَلِّي الضُّحَى اَرْبَعًا، وَيَزِيْدُ مَاشَاءَاللهُ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ
    415.    Dari 'Aisyah. Ia berkata : Adalah Rasulullah saw. Shalat dhuha empat (raka'at) dan ia tambah sebanyak yang dikehendaki oleh Allah (maksudnya, seberapa sesorang suka kerjakan).
    Diriwayatkan dia oleh Muslim.

وَلَهُ عَنْهَا : اَنَّهَا سُئِلَتْ: هَلْ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّيْ الضُّحَى؟ قَلَتْ :لَا، اِلَّا اَنْيْجِيْئَ مِنْ مَغِيْبِهِ
    416.    Dan baginya. Daripadanya. Bahwasanya ia di tanya : Adakah Rasulullah saw. shalat Dhuha ? Ia menjawab : Tidak ! kecuali apabila ia datang dari perjalanannya.


وَلَهُ عَنْهَا : مَارَاَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص. يُصَلِّيْ قَطُّ سُبْحَةَ الضُّحَى، وَاِنِّيْ لَأُسَبِّحُهَا
    417.    Dan baginya. Daripadanya : Saya tidak lihat Rasulullah saw. shalat sunnat Dhuha (dengan tetap), tetapi saya mengerjakannya (dengan tetap).

عَنْ ذَيْدِ بْنِ اَرْقَمَ، اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : (صَلَاةُ اْلاَوَّبِيْنَ حِيْنَ تَرْمِضُ اْلفِصَالُ). رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ
    418.    Dari Zaid bin Arqam, bahwasanya Rasulullah saw. telah bersabda : shalat orang yang banyak bertaubat itu ialah ketika anak-anak onta kepanasan.
    Diriwayatkan dia oleh Tirmidzi.

KETERANGAN :
        Dari terbit matahari hingga gelincirnya ada kira-kira enam jam. Waktu Dhuha itu adalah kira-kira dua jam dipertengahan enam jam itu, yaitu kira-kira jam 8 sampai 10; di waktu anak-anak onta mulai merasa kepanasan matahari.

عَنْ اَنَسٍ قَالَ : قَالَ رَسُوْلَ اللهِ ص.(مَنْ صَلَّى الضُّحَى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ ثَمَانِيَ رَكَعَةً بَنَى اللهُ قَصْرًا فِيْ اْلجَنَّةِ). رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَاسْتَغْرَبَهُ
    419.    Dari Anas. Ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw. : Barangsiapa shalat Dhuha dua belas raka'at, niscaya Allah dirikan baginya satu mahligai di surga.
    Diriwayatkan dia oleh Tirmidzi dan ia anggap dia gharib (menurut ish-thilah Tirmidzi, adalah dengan makna "lemah").

عَنْ عَائِشَةَ قَلَتْ :(ذَخَلَ رَسُوْلُ اللهِ ص. بَيْتِيْ، فَصَلَّى الضُّحَى ثَمَانِيْ رَكَعَاتٍ، رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ فِيْ صَحِيْحِهِ
    420.    Dari 'Aisyah. Ia berkata : Rasulullah saw. masuk ke rumah saya lalu ia shalat Dhuha delapan raka'at.
    Diriwayatkan dia oleh Ibnu Hibban di (kitab) sahihnya.


KETERANGAN :
        I.    Sunnat Dhuha itu kira-kira antara jam 8 sampai jam 10 siang.
        II.    Raka'atnya tidak ditetapkan oleh Rasulullah saw. tetapi riwayat-riwayat menunjukkan bahwa Rasulullah saw, kerjakan Dhuha empat, delaapan atau dua belas raka'at.
        III.    Riwayat-riwayat tidak menunjukkan bahwa Rasulullah saw., mengerjakan dengan tetap.
____________________






Sumber :
Tarjamah BULUGHUL MARAAM (A.HASSAN)